TANAH BUMBU – Ribuan warga dan pengunjung memenuhi ruas jalan di pusat kota Tanah Bumbu saat Karnaval Etnik Budaya 2025 digelar pada akhir pekan lalu. Acara ini menyuguhkan pertunjukan budaya yang memadukan tradisi lokal dan kreativitas kontemporer, menciptakan suasana penuh warna dan semangat kebersamaan.

Dalam sambutan Bupati Tanah Bumbu, Andi Rudi Latif, yang dibacakan oleh Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Eryanto Rais, mengatakan Kabupaten Tanah Bumbu dikenal sebagai daerah yang majemuk, tempat beragam etnis, budaya, dan tradisi hidup berdampingan secara harmonis. Keberagaman tersebut adalah kekuatan, bukan perbedaan yang memisahkan, melainkan kekayaan yang menyatukan.

Kegiatan yang mengambil rute sepanjang Jalan utama batulicin ini menampilkan berbagai atraksi seni, termasuk parade pakaian adat dari beragam suku di Nusantara, tarian kolosal, serta musik tradisional yang mengalun sepanjang rute karnaval. Ribuan pasang mata mengikuti tiap formasi yang melintas, sambil mengabadikan momen lewat kamera dan ponsel.

Pemerintah daerah menyatakan bahwa karnaval ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga merupakan ruang ekspresi budaya sekaligus ajang memperkenalkan kekayaan lokal kepada masyarakat luas. Beberapa peserta bahkan menampilkan pakaian dan seni pertunjukan yang jarang terlihat di acara publik lainnya, menambah daya tarik festival ini.

Para pengunjung tampak menikmati setiap segmen parade, dari anak-anak hingga orang dewasa. Sorak-sorai dan tepuk tangan memberikan energi tersendiri bagi seluruh peserta yang berjalan dalam iringan musik dan sorotan matahari sore.

Karnaval ini juga menjadi kesempatan bagi pelaku industri kreatif lokal untuk memamerkan produk seni mereka, mulai dari kerajinan tangan hingga aksesori tradisional. Kehadiran stan seni dan budaya di sepanjang lokasi membuat warga semakin betah berlama-lama menikmati acara.

Melalui kegiatan ini, pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu berharap semangat kebhinekaan dan tali persaudaraan kian kuat di tengah masyarakat. Karnaval Etnik Budaya 2025 diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang tidak hanya memperkaya konten budaya daerah, tetapi juga menarik minat wisatawan domestik dan mancanegara. (Fen)